pengelolaan dalam al-Qur’an

Dalam ilmu ekonomi disebutkan adanya aktivitas ekonomi karena adanya need dan want pada diri manusia. Hal ini dalam Al-Qur’an disebut fitrah yang dihiaskan pada manusia yaitu; hubbu asysyahawat (QS. Ali-Imran(3): 14. Dengan fitrah ini, manusia tidak dapat lepas dari kebutuhan terhadap harta benda yang harus dikelola dan dikembangkan sehingga menghasilkan kemanfaatan dan kemaslahatan bagi dirinya dan orang lain.

Dalam ilmu ekonomi, posisi harta benda mempunyai posisi yang sentral. Apabila dalam ekonomi konvensional harta (asset) dianggap sebagai salah satu modal atau faktor produksi, sebaliknya Islam memposisikan harta benda sebagai pokok kehidupan. Dalam surat an-Nisa(4) ayat 5, secara tegas disebutkan posisi harta benda sebagai tiang atau pilar pokok kehidupan (qiyama). Kita tidak dapat berdiri tanpa adanya tiang berupa kaki. Demikian pula rumah tanpa tiang tidak akan terwujud. Karena itu hidup di dunia akan hampa tanpa adanya harta benda.

Pada ayat itu pula Allah menegaskan, keidakbolehan menyerahkan harta benda yang dimiliki kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya. Menyerahkan di sini dapat bermakna menitipkan, mengamanahkan untuk dikelola atau menginvestasikan. Yang dimaksud orang-orang yang belum sempurna akalnya adalah anak-anak dan mereka yang tidak mempunyai keahlian dalam mengelola harta benda. Assufaha’ pada asalnya berarti orang yang tertutup akalnya, belum baligh atau bodoh. Namun dapat pula diartikan orang yang belum atau tidak mempunyai keahlian dan keterampilan mengelola dan mengembangkan harta benda. Ayat ini dengan demikian secara tersirat mendorong untuk mengelola dan mengembangkan harta benda secara profesional atau diinvestasikan kepada bisnis produktif. Sebagai pokok kehidupan, harta memiliki fungsi terhadap berbagai perilaku manusia, baik aktivitas produksi, konsumsi dan distribusi. Ia juga bukan hanya menjaga keberlangsungan hidup si pemilik harta tetapi juga bermakna bahwa harta yang dimilikinya dapat menjadi sebab (terjaminnya) keberlangsungan hidup secara luas, karena kehidupan tidak hanya terfokus pada individu tetapi juga pada lingkungannya, seperti tetangga, kerabat, hingga lingkungan makro (negara dan antar negara).

Secara dasariah, manusia tidak dapat melepaskan diri dari kebutuhan material harta benda. Dalam diri manusia terdapat fitrah yang dihiaskan kepada manusia yaitu hubbu asy-syahawat (QS. Ali-Imran(3): 14) yang merupakan semacam “bahan bakar” pendorong kerja. Segala aktivitas manusia memerlukan daya atau energi, dan penggunaan suatu daya pasti melahirkan keletihan. Untuk menggapai daya itu, diperlukan dorongan. Keinginan atau kecintaan (syahwat) itulah daya. Hubbu asy-syahawat dengan demikian berarti; segala sesuatu yang diinginkan oleh manusia sekaligus ingin memiliki atau menguasainya secara kuat. Ayat 5 surat an-Nisa juga menegaskan;“Berilah mereka belanja dan Pakaian (dari hasil harta benda itu)”.

Pada penggalan ayat ini digunakan fiha, bukan minha. Apabila minha berarti sebagian dari padanya dapat berakibat mengurangi pokok harta (modal), maka penggunaan fiha, mempunyai konsekuensi tidak mengurangi pokok harta benda. Dengan demikian yang diberikan untuk biaya hidup adalah hasil dari pengelolaan atau pengembangan harta benda itu.

Berdasar uraian di atas, jelaslah, Al-Qur’an memposisikan harta benda secara netral. Eksistensi harta benda seperti sebilah pisau: dapat menolong dan dapat pula membunuh. Harta merupakan wasilah (perantara) yang dapat mengan-tarkan seseorang melakukan kewajibannya. Harta benda dapat menyebabkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Ia akan menjadi baik jika digunakan sebagai jalan menuju kebaikan. Sebaliknya akan berubah menjadi keburukan dan bencana apabila digunakan dalam wilayah keburukan. Dengan harta manusia dapat selamat, tetapi dengan harta pula manusia dapat terkena laknat.

Itulah sebabnya Al-Qur’an menyebut harta benda benda sebagai ujian dan cobaan. Hal ini misalnya tersurat dalam dua ayat berikut:

“Dan Ketahuilah, bahwa harta bendamu dan anak-anakmu ituhanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS al-Anfal(8): 28.

“Sesungguhnya harta bendamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”. QSAt-Taghabun (64): 15.

Dengan demikian, Al-Qur’an sama sekali tidak memusuhi harta benda. Karena itu, sebagai konsekuensi posisi yang netral, kepemilikan dalam Islam tidak bersifat absolut melainkan relatif. Dengan fitrah nya, manusia tidak dapat lepas dari kebutuhan terhadap harta benda yang harus diupayakan, dikelola dan dikembangkan. Harta merupakan nikmat Allah sekaligus amanat Allah atas manusia.

Kepemilikian dimaknai sebagai anugerah Allah atas manusia. Allah SWT memberikan harta benda (rezeki) pada umat manusia tidak bersifat merata. Ada yang berlebih, tetapi ada yang dibawah standar kebutuhan mereka. Dari kondisi inilah diperlukan adanya interaksi dan distribusi harta benda, baik melalui kerja sama, jual-beli dan lain-lain. Dengan pandangan ini, masalah kelangkaan yang diklaim oleh ekonomi konvensional sebagai masalah utama ekonomi, tidak relevan dalam ekonomi Islam. Secara tegas, Allah telah menjamin rezeki atas semua makhluk yang berarti tidak akan terjadi kelangkaan. Pada saat yang sama, terdapat keharusan sistem distribusi yang seimbang antara yang kelebihan harta dengan yang kekurangan. “Dan pada harta-harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (tidak meminta).12ز

Itulah pula sebabnya dalam surat an-Nisa(4): 32 kita tidak boleh iri hati atas kelebihan harta yang dimiliki oleh oang lain. Harta benda merupakan karunia Allah yang terkait dengan kualitas dan kuantitas kerja atau usaha. Dan inilah yang ditekankan oleh Al-Qur’an surat Annajm(53): 39 berikut: Dan bahwasanya bagi manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya.

Karena itulah Rasulullah tidak memberikan kebebasan mutlak dalam berinteraksi dengan harta benda. Sebaliknya tidak memenjarakan manusia dari kefitrahan cintanya terhadap harta dengan memberikan parameter-parameter sehingga manusia mempunyai kemampuan mengendalikan kecenderungan negatif akibat okupansi harta benda yang banyak atau akibat tidak memiliki harta benda. Rasulullah bersabda: “Wahai Amr, sebaik-baik harta benda yang shalih adalah milik orang shalih.” (HR Ahmad)

Dengan hadis ini, Rasulullah memberikan asumsi-asumsi yang wajar dalam berinteraksi dengan harta benda, yaitu untuk keselamatan manusia, khususnya dalam aktifitas ekonominya. Beliau juga menunjukkan keutamaan yang memiliki harta benda yaitu memiliki potensi beramal shalih lebih banyak dari mereka yang tidak mempunyai harta.

“Orang-orang kaya telah meraih pahala (yang banyak)…”(HR Bukhari Muslim)

“Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, adalah jauh lebih baik daripada nmeninggalkannya dalam keadaan miskin, kemudian menjadi

beban (meminta-minta) kepada orang lain.” (HR Bukhari Muslim)

Dalam konteks ekonomi, dengan demikian dapat diambil benang merah sementara bahwa harta benda merupakan media bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yaitu mencapai kesejahteraan, kedamaian dan kemenangan dunia dan akhirat (falah). Harta benda menjadi variable sentral dalam aktifitas ekonomi manusia. Dalam berbagai bentuk dan variasinya harta menjadi sesuatu yang membutuhkan penyikapan secara bijaksana, sebagaimana diarahkan ajaran Al-Qur’an. Dengan demikian jelas bahwa interaksi manusia dengan harta benda hendaknya berada dalam kerangka keshalihan atau keimanan.

Kepustakaan:

H. M Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan Kesan dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2004)
Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s